Beberapa saat sebelum menikah saya meminta istri untuk resign dari pekerjaanya di Bank, suatu permintaan yang cukup berat mungkin buat wanita karier. Pertimbangan saya adalah saya tidak mau anak kami akan diurus oleh orang lain termasuk Neneknya sekalipun. Karena pemikiran saya adalah anak pemberian Tuhan buat suami istri bukan buat Neneknya. Kami tidak akan melimpahkan tanggung jawab ini pada orang lain, Baby sitter, Neneknya, tantenya dan lain-lain.
Saya sangat respek padanya ketika dia juga memiliki pemikiran yang sama. Kami membesarkan David bersama, mengajarinya banyak hal dasar karakter dan ini tidak bisa dibayar dengan apapun termasuk karier sekalipun. Saya tidak pernah memandang rendah peran seorang ibu rumah tangga. Itu jauh lebih berat dari sekedar karyawan di Bank ternama sekalipun.
Apa artinya kalau kami mendapatkan uang banyak tetapi anak kehilangan waktu dimasa masa kecilnya bersama orang tuanya. Anak saya tidak selamanya kecil, dia akan tumbuh besar dan kami tidak mau kehilangan waktu indah tersebut hanya karena pengejaran materi. Sebagai seorang Suami saya belajar untuk tetap respek pada istri dan mengerti bahwasanya istri bukanlah "TULANG PUNGUNG" akan tetapi "TULANG RUSUK" yang harus selalu dilindungi dan mengambil posisi terdekat dihati. So, apalagi bagi mereka yang istrinya harus bekerja karena keadaan haruslah lebih lagi mengasihi istri dengan segenap hati dan pikirannya.
Investasi terbesar adalah Investasi pada Keluarga. Jangan sampai kita salah Investasi.
-*- Basler -*-







0 komentar:
Posting Komentar